#Cerpen: Garnish

Kue ataupun roti menjadi tajuk yang diangkat Mashdar Zainal untuk dijadikan karya sastra. #CerpenKoran berjudul "Garnish" adalah hasilnya. Ialah #Cerpen yang dimuat oleh Femina. Dan berikut ini arsipnya di #klipingsastra »» http://id.klipingsastra.com/2015/03/garnish.html #CerpenNusantara #CerpenMinggu #CerpenIndonesia #CerpenFemina #Literatur #Literature #Literasi #KlipingCerpen #KumpulanSastra #KumpulanCerpen #SastraNusantara #Sastra #SastraIndonesia #MajalahFemina #Femina

Begitu memasuki toko roti di lantai satu perpustakaan itu, Garnish langsung teringat toko roti milik keluarga Tim. Selalu ada aroma manis vanilla dan kadang-kadang moka. Ya Tuhan, jangan aroma ini lagi. Garnish mengempaskan tubuhnya ke sebuah sofa empuk tanpa sandaran, matanya menerawang ke mesin pendingin yang mendesis di atas belakang meja kasir. Perutnya keroncongan. Tapi ia tak ingin makan apa pun. Sebuah pesan pendek yang dikirim Tim beberapa menit lalu telah menghilangkan selera makannya. Juga membuyarkan seluruh konsentrasinya untuk menyelesaikan bab tiga dari novel yang sedang ia tulis.

Garnish mengerjapkan matanya yang telanjur berkaca-kaca. Ia terus menerawang ke mesin pendingin, nyaris tak berkedip, hingga Richard --si penjaga toko roti yang tampak selalu antusias padanya-- menatapnya dengan heran.
“Apa kau baik-baik saja, Nona Manis?” Ricard mencoba menyapanya, Garnish tidak menyahut.
“Apa kau ingin sesuatu? Hari ini aku ada menu baru, Pai Apel dan Puding Jagung, kau mau yang mana?” Richard terus mengoceh sambil menata roti-roti dalam baki putih mengilap yang berjajar di atas rak.
“Diamlah, Rich, aku sedang tak ingin makan apa pun. Aku juga sedang tak berminat ngobrol. Aku hanya ingin duduk di sini sebentar. Semoga kau tak keberatan.”
Richard menatap Garnish sekilas, mengangguk ragu, dan kembali sibuk dengan roti-rotinya. Ia tahu, gadis itu sedang tak ingin diganggu.

Comment Stream