#Cerpen: Istana Gotik

"Istana Gotik" menjadi judul sebuah #cerpen apik yang diusung oleh Iksaka Banu di Koran Tempo 15 Maret 2015. Simak arsipnya di sini »» http://id.klipingsastra.com/2015/03/istana-gotik.html #cerpenminggu #cerpenkoranminggu #cerpenkoran #sastraminggu #sastra #sastrakoran #kumpulansastra #klipingsastra #klipingcerpen #kumpulancerpen #koranminggu #literature #literasi

DERIT rem, disusul empat bantingan pintu oto. Pasti Babah Sun dan teman-teman. Terlambat. Syaraf tubuh bagian bawahku mulai enggan mematuhi perintah otak. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuh. Aku akan mati. Mereka akan menemukan tubuhku berkubang darah. Menyusul si durjana.
Sekuat tenaga kuangkat leher. Ah, tak tersisa gerumbul otot yang sepakat dengan kehendak ini. Syukurlah kedua bola mataku masih berfungsi. Kupaksa mereka berputar ke depan. Pemandangannya sama sejak sore tadi. Empat pria terkapar tanpa jiwa, mengelilingi sosok besar di kursi berukir. Si durjana, yang terkulai dengan mulut sobek sampai ke telinga. Oh, mulut lebar itu. Cocok menjadi rumah kata-kata manis yang sering ia tebar. Kata-kata yang telah membuat Miranda hanyut menjadi gadis bodoh.
Miranda. Nona Miranda. Kutengok tubuh seputih lilin di pangkuanku. Miranda. Kembang Istana Gotik. Kesayangan Babah Sun. Kesayangan semua orang.
"Kamu ikut ke mana Nona pergi,"aku ingat Babah Sun menepuk pundakku sebelum menoleh kepada perempuan di depan kami. "Orang ini pensiunan KNIL. Jago kelahi. Ia kini centengmu, gantinya si Joni."
Gadis itu mengulurkan tangan. "Aku Miranda," ia menyapa dengan warna suara yang sulit kutemukan dalam ungkapan. Nyaring? Bersih? Yang jelas, dia tidak kaget melihat wajahku.
"Willem," sahutku.
"Boleh saya panggil Bang Willie? Oh, angkernya. Boleh beri saya wajah yang lebih ramah?"
Kubuang pandangan ke samping. Tak guna menjelaskan betapa "wajah angker" itu sesungguhnya sebagian daging kening yang gagal kembali ke tempatnya setelah tersapu kelewang seorang laskar Bali saat terjadi Puputan Badung.

Nona Miranda. Istana Gotik. Ya, semua bermula tiga tahun lalu, setelah Babah Sun kuselamatkan dari keroyokan para sinyo mabuk di sekitar Kalibesar. Mendengar aku butuh pekerjaan, Babah membawaku ke Istana Gotik menjadi karyawannya.

More at http://id.klipingsastra.com/2015/03/istana-gotik.html

Comment Stream