Konveksi Tas Di Jakarta Barat

You can put a sub headline here.

Tackk is the newest format to
creatively share anything on the web.

ampun deh de...., eh, eh, de, de, jangan atuh, malu gw" itu Desi seenaknya saja main ambil itu bando lalu memasangnya di kepala saya. manis rasanya kawan.

"coba lw liat sini, eh jangan dilepas dulu bandonya, gw tabok lw kalau lepas" jari Desi yang kecil-kecil mengepal, bentuknya seperti tinju sekarang. Gemas saya jadinya.

Bukan saya takut di tabok oleh Desi maka saya tidak lepas itu bando dari kepala saya. tidak ada cerita dalam kamus saya ada kata "takut" karena kebetulan memang kamus saya tidak lengkap, banyak sekali kata-kata yang tidak ada di kamus saya, makanya saya sering pinjam itu kamus Desi karena punya dia terlebih banyak kosa katanya.
Konveksi Tas Di Jakarta Barat
"cakep, cakep, berapaan itu teh?" betul kan apa saya kata tadi, bukan Desi namanya kalau itu bando tidak dia beli.

"sekian ribu, teh" saya tidak ingat berapa jumlah pastinya, hanya saja saya ingat waktu itu saya bayar masih pakai Rupiah.

Sebelum Desi sempat mengeluarkan uang dari dompetnya, segera saya bayar itu bando, Desi tersenyum senang, dompet saya menangis.

"makasih ya ham, bae banget lw. harusnya biar aja gw yang bayar, kenapa jadi lw yang bayar. kan ga enak gwnya" Desi bergelayut manja di lengan saya, kalau itu surga, maka itulah surga.

"biasa aja kali de, sekali-kali gw beliin lw, lw kan udah sering banget nraktir gw, ini aja KFC bakal lw lagi yang traktir"

Satu kepalan mendarat mulus di pipi saya, sakit itu sedikit, mesra itu yang dirasa.

Kita jalan sampai sore, Desi menemani saya berbuat tugas sekalian dia juga berbuat, sebab tugasnya pun belum rampung. Sorenya kita balik ke itu tempat pencetakan foto, ambil hasil cetakan, saya antar Desi kembali ke kosannya, lalu saya pulang.

Sepanjang jalan, ada rasa manis di hati saya, entah sejak kapan dia hinggap, diam-diam, pelan-pelan, mengendap-endap, lalu setelah itu saya sadar bahwa saya jatuh cinta.